jika kita ingin
memahami suatu peristiwa, kita tidak dapat meneliti fakta-fakta yang terpisah;
kita harus memandangnya dalam hubungan keseluruhan. Untuk memahami seseorang,
kita harus melihatnya dalam konteksnya, dalam lingkungannya, dalam masalah yang
dihadapinya. Ibarat mencintai seseorang, meskipun hal itu disimpan dalam ruang
yang sunyi, sejauh mana kita bisa menerima orang itu lengkap dengan keseluruhan
hidupnya. Atau jangan-jangan selama ini kita hanya kagum pada kebaikannya
kemudian menutup mata pada kehidupannya yang lebih luas. Melihatnya dengan
kacamata terpisah, melihatnya hanya sebagai individu. Namun menolak untuk
melihat tentang orang-orang dan segudang pengalaman yang lebih dahulu mengisi
kehidupannya.
Pendakian saya ke Gunung Papandayan kali ini ditemani oleh 4 orang. Pertama Amir, dia adalah teman sekelas saya ketika S1 di jurusan komunikasi. Kedua ada Ajeng, teman satu kampus, satu organisasi, juga teman mengaji bareng. Ketiga Esa, Esa adalah teman sekelasnya ajeng di jurusan teknik informatika. Dan terakhir ada Ryan. Ryan adalah temannya Amir. Kami berlima janjian untuk bertemu di titik kumpul Terminal Kampung Rambutan. Saya datang pertama, kemudian Ajeng dan Esa. Sambil menunggu Amir dan Ryan, kami bertiga makan malam dahulu dengan nasi padang. Tak lama kemudian Ryan tiba. Setelah Amir datang dan semua anggota lengkap kami langsung naik bis ekonomi AC meluncur ke Garut. Kami berangkat sekitar jam sembilan malam. Tiba di Terminal Guntur-Garut jam setengah tiga pagi. Udara dingin mulai terasa menusuk kulit. Di sini saya dan teman-teman sempat diminta oleh seorang pemuda untuk memberinya sekian uang. Sepertinya ia mabuk, terlihat dari pupil matanya dan mulutnya ya...
Komentar
Posting Komentar