Perempuan itu tersipu malu. Wajahnya antara bahagia dan cemas yang samar. “Kakak yakin?” tanyaku penasaran. “Iya.” “Emang awalnya gimana?” “Ya gitu....” tatapannya menerawang. “Seriusan nih gak ragu? Tapi kan sebelumnya kakak gak kenal siapa dia, orangnya bagaimana.” “awalnya sih juga ragu, takut juga. Haha... bertanya-tanya sendiri, ini beneran gak ya?” “lha terus?” “trus karena Kakak masih agak ragu, akhirnya dipanggillah kakak sama dia di depan ustad, ditemani murabbi kakak sama murabbinya dia juga. Akhirnya baca hafalan Qur’an, murojaah di depan ustadnya. Aduuuhh kakak malu banget.” Lagi-lagi wajahnya tersipu kemerahan. “kalau hafidz itu kan ada tingkatan-tingkatannya ya, kakak baru tahu pas di sana dia tuh udah hafidz tingkat tiga atau berapa gitu, sedangkan kakak baru hafal juz tiga puluh sama dua puluh sembilan.” Jleb, aku yang mendengarnya pun ikutan merasaaaa... euuummnn.. apa ya, campur-campur. “Saat itu ya Kakak meyakinkan diri sendiri, mungkin memang ...