Langsung ke konten utama

Postingan

Tradisi

untuk senior masa lau : bukan kami gengsi meminta bantuanmu, hanya saja kalian selalu mencampuri urusan kami, mengangap kami terlalu lemah, apa pun yang kami lakukan selalu tak cukup. kalian mendoktrin kami ini dan itu. kalian bilang ini yang terbaik, lagi-lagi menurut kalian. suara kami hampir-hampir tak terdengar. kalian mengurung kami dengan seperangkat aturan yang wajib kami patuhi. ketika kami protes, kalian hanya bilang itu 'tradisi'

Alasan

Mulai mencari? Apa? Alasan. Untuk menolak, menghindari, atau setidaknya menunda Hal-hal yang tidak ingin Atau tidak bisa dilakukan Yang temponya jatuh dalam waktu yang hampir bersamaan. Pikiran tak akan maksimal hasilnya bila bercabang. Tapi hati-hati Diantara banyaknya alasan, Mugkin saja terselip Perangkap setan.

Rasa

Rasa itu bisa berubah. Pun makanan bisa jadi basi. Mengapa? Karena ada proses yang membuatnya jadi seperti itu. Bagaimana mempertahankan rasa awal sepanjang waktu? Pakai pengawet? Mungkin bisa, tapi tidak menyehatkan. Apalagi bila penggunaannya tidak sesuai. Yang ada, lama kelamaan mati rasa. rasa relasi kita.

Mak Jleb Jleb

                Lagi iseng liat-liat tumblr punya seseorang. Anak Fasilkom UI angkatan 2007, saya tahu beliau karena waktu itu beliau sempat jadi pembicara di salah event SMA almamater saya. Tumblrnya isinya bagus, memotivasi banget. Daripada liat-liat postingan yang isinya marah-marah atau hal-hal ga penting lainnya, sekali-kali perlu juga liat yang seperti ini. Sampailah di salah satu pagenya yang udah lama, dengan postingan : “Hati-hati ya her, jangan ketipu.. Orang yang paling sering masang status fesbuk dengan ayat-ayat Qur’an, belum tentu paling sering baca Qur’an.. Orang yang paling sering berdoa dengan “kicauan” di twitter, belum tentu yang paling dekat dengan Tuhannya.. Orang yang paling sering jadi pembicara tentang kontribusi terhadap ummat, belum tentu diterima amal kebaikannya.. Karena untuk melihat seberapa   qur’ani seseorang, lihatlah akhlak kesehariannya.. Karena untuk melihat seberapa dekat seseorang dengan Tu...

Building Bridges or Building Walls??

                I once worked in an organization where people trusted one another. Where people told the truth, shared information, did not feel afraid of getting it wrong or being a failure. When people made mistakes, they were able to admit to them openly and ask for help. Managers were more interested in what lessons had been learned from mistakes than apportioning blame. Gossip and nastiness were uncommon. People could disagree or challenge each other, knowing that it was done with positive intent. People were open, the atmosphere was supportive, problems were solved easily, there was no need to read between the lines because you could rely on the fact that people communicated honestly and no one was ‘punished’ for speaking out. Because of this strong element of trust, people worked better and relationships – whether with customers, colleagues or suppliers – were stronger and more successful.

Taekwondo oh Taekwondo

          Hari kelulusan sebentar lagi. Ransel yang biasanya berisi buku-buku pelajaran SMA ini akan berpindah ke tempat yang baru. Di sisa waktu, kami seperti berada di shelter, menunggu bus yang akan membawa kami ke tempat tujuan masing-masing. Tentunya waktu yang kami habiskan bersama tak akan selama waktu yang lalu.  Tiap dari kami hanya mampu mengandalkan kenangan untuk melepas rindu. Kenangan saat kami ngumpul di basecamp untuk nonton film horror atau action sadis sambil makan mie bebep (mie ayam yang bikin super kenyang yang adanya di sekolah sebelah), dan yang biasanya teriak itu Una, Aina dan Febri. Aku, Yayat, dan Dewi paling cuma bengong sepanjang film. “lha? Jadi intinya nih film apa?” dan mulailah perdebatan yang aneh, lebih sering diantara aku dan Dewi.           Dewi itu senangnya ngebut kalau bawa motor. Kalau Yayat digoncengin dewi, pasti helmnya dewi selalu bunyi. Kalau ...