Langsung ke konten utama

Postingan

Jadi Cantik?

Taman kota siang ini tak begitu ramai.  Sembunyi dibalik dahan rindang pohon beringin dari ganasnya terik matahari memang terasa lebih nyaman. Apalagi ditemani segelas es doger merah muda kesukaan Rara. Tapi entah dari mana suara seseorang tiba-tiba mengejutkan keheningan taman itu. “Raraaaa!” “Huhuhu mau cerita. Emnn.. tapi darimana ya?” Gea, perempuan tomboy dengan potongan rambutnya yang pendek setelan kemeja dan jeans duduk disamping Rara dengan wajah mirip layangan singit. Cemberut. “cerita apa? Haha, lucu banget sih kamu, Ge. Datang-datang bikin gempar.” “ihh, lagi sebel tahu! Sruupp... sruppp” sambil meneguk es doger milik Rara tanpa permisi. “iya, yasudah. Cerita aja. Tapi esnyaaaa.....” “hehe, maaf Ra, panas banget, haus jadinya. Jadi ceritanya tadi tuh...” Gea mulai serius bercerita. *** Pagi hari di rumah Gea. “Gea, kamu itu perempuan! Jadilah perempuan yang semestinya. Yang lemah lembut, yang cantik, ehhh ini mah kelakuan mirip anak laki-laki. Hob...

Bunyi Lisan Kita

Daging tak bertulang itu bernama lidah. Lunak memang, tapi ia mampu menembus apa yang tidak bisa ditembus oleh jarum. Sekali lisan terucap, maka ia bak anak panah yang tak bisa diulur kembali ke dalam busur. Tanpa disadari ternyata lisan inilah yang seringkali menjadi boomerang bagi diri sendiri. lisan seseorang menentukan derajatnya. Derajat pertama adalah orang yang berkualitas, bicaranya selalu bermanfaat, sarat dengan hikmah, ilmu, solusi, atau dzikir. kedua, derajat orang yang biasa-biasa, cirinya mudah mengomentari apapun yang dilihat atau didengarnya, walau tidak ada manfaatnya. Ketiga, orang rendahan, ia mudah mencela, mengeluh, dan selalu memandang dari sisi negatif. Sedangkan keempat, orang yang dangkal, selalu menceritakan kelebihannya dan ingin terus dihargai. Juga tidak layak apabila ingin orang lain memahami isi pembicaraan kita, namun kita tidak peduli apakah itu menyinggungnya atau tidak. Sebelum bicara, perhatikan perasaan atau ekspresi wajah lawan bicara. Jik...

Bukan Malaikat

Bagaimana jika, ternyata : Dirimu bukan seperti yang mereka sangka? Bukan seidealis harapan-harapan mereka? Jika nyatanya ada peran yang tak mampu lagi kau mainkan, Masihkah mereka akan tetap ada disampingmu? Mendukungmu dengan tulus? Ah ya, aku tahu. Kau bukan malaikat. Jadi biarkan saja mereka. Mengapa harus takut dengan apa yang mereka pikir? Kalau mereka cerdas, Tentu akan bertanya padamu Tentang apa yang sebenarnya terjadi. Bukannya bebas sesuka hati menghakimi.

Logo MaMen

Satu Teguran (lagi)

“Assalamu’alaykum yuning. Bagaimana kabarnya? Lagi sibuk apa sekarang?” Sms dari Nurmalasari yang memberiku kejutan diantara banyaknya sms di kotak masuk pesanku. Nurmalasari, yang biasa dipanggil lala adalah temanku dari jurusan D3 Manajemen. Sudah lama tidak terdengar kabarnya. “Wa’alaykumsalam. Alhamdulillah. Sekarang lagi sibuk kuliah aja. Lala gimana kabarnya?” “Alhamdulillah baik. Ning aku mau tanya-tanya nih.” “tanya apa la? Insya Allah kalau aku tahu aku jawab.” “soal solat tahajud ning. Emang harus tidur dulu ya? Aku kan sering ngerjain tugas sampai malam, trus mau solat tahajud. Itu gimana?” Pertanyaan itu serasa menohok ke jantung hatiku. Minder saat menyadari dia yang baru setahun lalu berhijab, benar-benar bersemangat dalam menjalankan perintah-Nya. Aku? Berpikir keras kapan terakhir kali khusyuk bermalam-malam dengan Sang Pencipta. Terlalu lelah dengan aktifitas dunia hingga ibadah yaumiyah sering terbengkalai. Apa yang salah? Teringat nasehat seorang ka...

Seniman Jalanan

“.... kaulah cerita dalam pikiranku...” Penggalan lagu itu benar-benar merdu, lebih merdu dari yang dinyanyikan oleh penyanyi aslinya (menurutku). Sudah 2 pengamen yang numpang menjajakan suaranya diangkot ini, tapi hanya pengamen yang ke-3 yang performanya berbeda. Walau tampilan fisiknya biasa saja, sama seperti yang lainnya, sedikit berantakan. Tapi suaranya di atas rata-rata. Aku pikir dia cocok untuk mendapat gelar seniman jalanan. Suaranya gak asal keluar, dan aku tahu dia aransemen sedikit ritme lagunya. Jarang-jarang bisa menemukan seniman jalanan seperti ini. Kalau aku pemilik cafe, tentu sudah kuberikan kartu namaku dan kuminta dia untuk jadi penyanyi di cafeku. Ummn.. kalau baca Al-Qur’an bisa lebih bagus gak ya?  -281212

Materi Presentasi Kursus

*Materi Presentasi Kursus bersama Diah Nu Indah Sari, Eka Rusmanda, Leo Susanto, dan M. Derry Mayendra,