Suatu hari aku ingin membangun sebuah rumah, tak
perlu besar, megah dan mewah, cukup rumah yang sederhana. Sebuah rumah
sederhana dengan banyak jendela, agar angin sejuk bisa masuk ke dalamnya.
Arsitekturnya didominasi dengan kayu. Disamping rumah akan ada sebuah kebun
kecil yang diisi dengan koleksi kaktus mini (gampang ngerawatnya, bentuknya
juga unik) dan bunga daisy, crysantium, juga tanaman obat. Dibagian belakang
rumah ada halaman yang luasnya seukuran lapangan bola (hahaha kaga mungkin,
bener-bener mimpi dah) untuk memelihara kuda poni dan bisa untuk camping
(hahahaha, camping di dekat rumah sendiri). Di bagian depan ada beranda dengan
kolam ikan. Dilantai 2 akan ada atap yang bentuknya setengah bola seperti di
planetarium dan bisa di buka. Aku ingin rumah itu menjadi rumah yang hangat
dengan kasih sayang dan penuh tawa. Tapi lebih dari itu, aku berharap dapat
membangun rumah di surga bersama orang-orang sholeh, tak perlu megah, sederhana
saja. Selagi masih mimpi, mimpi aja sengaco-ngaconya....ahahahahaha...
Jarang-jarang temanku berpendapat sebegini panjangnya. "Ning, selama berhubungan dengan manusia; ketulusan itu utopis banget. Apalagi zaman sekarang. Naif namanya kamu percaya dengan hal itu. Nih ya, mungkin kamu engga sadar; sebenernya orang-orang yang memberi kebaikan mereka ke kamu diam-diam mereka sedang menganggapmu seperti celengan. Suatu saat mereka pasti akan meminta kembali kebaikan itu darimu dalam bentuk yang lain. Lalu ketika kamu tidak bisa atau memilih untuk tidak ingin mengembalikan itu; mereka mulai mengungkit-ungkit aset apa yang sudah ditanamkannya kepadamu. Kemudian dengan bias, kamu dianggap tidak sadar diri, tidak tahu balas budi, tidak tahu caranya bersyukur pada mereka. See??? Waspada saja kalau banyak orang baik yang terlalu baik disekitarmu, ingat ya; di dunia ini tuh gak ada yang mananya gratisan. Jangan percaya, bohong! Mungkin mulanya kamu sulit melihat ujungnya, tapi pasti ada yang tersembunyi dibalik itu. Terserah sih ma...
Komentar
Posting Komentar