Suatu hari aku ingin membangun sebuah rumah, tak
perlu besar, megah dan mewah, cukup rumah yang sederhana. Sebuah rumah
sederhana dengan banyak jendela, agar angin sejuk bisa masuk ke dalamnya.
Arsitekturnya didominasi dengan kayu. Disamping rumah akan ada sebuah kebun
kecil yang diisi dengan koleksi kaktus mini (gampang ngerawatnya, bentuknya
juga unik) dan bunga daisy, crysantium, juga tanaman obat. Dibagian belakang
rumah ada halaman yang luasnya seukuran lapangan bola (hahaha kaga mungkin,
bener-bener mimpi dah) untuk memelihara kuda poni dan bisa untuk camping
(hahahaha, camping di dekat rumah sendiri). Di bagian depan ada beranda dengan
kolam ikan. Dilantai 2 akan ada atap yang bentuknya setengah bola seperti di
planetarium dan bisa di buka. Aku ingin rumah itu menjadi rumah yang hangat
dengan kasih sayang dan penuh tawa. Tapi lebih dari itu, aku berharap dapat
membangun rumah di surga bersama orang-orang sholeh, tak perlu megah, sederhana
saja. Selagi masih mimpi, mimpi aja sengaco-ngaconya....ahahahahaha...
Pendakian saya ke Gunung Papandayan kali ini ditemani oleh 4 orang. Pertama Amir, dia adalah teman sekelas saya ketika S1 di jurusan komunikasi. Kedua ada Ajeng, teman satu kampus, satu organisasi, juga teman mengaji bareng. Ketiga Esa, Esa adalah teman sekelasnya ajeng di jurusan teknik informatika. Dan terakhir ada Ryan. Ryan adalah temannya Amir. Kami berlima janjian untuk bertemu di titik kumpul Terminal Kampung Rambutan. Saya datang pertama, kemudian Ajeng dan Esa. Sambil menunggu Amir dan Ryan, kami bertiga makan malam dahulu dengan nasi padang. Tak lama kemudian Ryan tiba. Setelah Amir datang dan semua anggota lengkap kami langsung naik bis ekonomi AC meluncur ke Garut. Kami berangkat sekitar jam sembilan malam. Tiba di Terminal Guntur-Garut jam setengah tiga pagi. Udara dingin mulai terasa menusuk kulit. Di sini saya dan teman-teman sempat diminta oleh seorang pemuda untuk memberinya sekian uang. Sepertinya ia mabuk, terlihat dari pupil matanya dan mulutnya ya...
Komentar
Posting Komentar