Langsung ke konten utama

Postingan

Teori Manajemen Makna Terkoordinasi

Untuk memahami apa yang terjadi dalam sebuah percakapan, Barnett Pearce dan Vernon Cronen membentuk teori Manajemen Makna Terkoordinasi ( Coordinated Management of Meaning -CMM). Bagi Pearce dan Cronen, orang berkomunikasi berdasar aturan. Mereka berpendapat bahwa aturan tidak hanya membantu kita dalam berkomunikasi dengan orang lain, melainkan juga dalam menginterpretasikan apa yang dikomunikasikan orang lain kepada kita. Manajemen makna terkoordinasi secara umum merujuk pada bagaimana individu-individu menetapkan aturan untuk menciptakan dan menginterpretasikan makna, dan bagaimana aturan-aturan tersebut terjalin dalam sebuah percakapan di mana makna senantiasa dikoordinasikan. Cronen, Pearce, dan Haris menyebutkan : “Teori CMM menggambarkan manusia sebagai aktor yang berusaha untuk mencapai koordinasi dengan mengelola cara-cara pesan dimaknai.” Dalam percakapan dan melalui pesan-pesan yang kita kirim dan terima, orang saling menciptakan makna. Saat kita menciptakan dunia...

Sepenggal Nasehat

Ketika tujuan hidup kita hanya untuk diri kita sendiri, maka hidup ini akan terasa lebih pendek dan kecil tiada arti. Berawal saat kita bangun dan berakhir dengan habisnya usia kita yang terbatas. Akan tetapi jika tujuan hidup kita adalah untuk orang lain. Dengan kata lain, apabila tujuan hidup kita ini karena suatu konsep tertentu, maka hidup akan terasa lebih panjang dan berarti. Lahir bersamaan dengan munculnya rasa kemanusiaan dalam diri kita dan melebar luas sebanyak orang yang merasa kehilangan kita. Hidup bukan hanya sekedar lewatnya bilangan tahun semata, namun nilainya dilihat dari bilangan perasaan dan hati manusia yang terkait dengannya. - Sayyid Quthb- Tidak seorangpun di antara kita yang tahu, baru berapa malam yang kita gunakan untuk memikirkan umat, atau baru berapa persen kehidupan yang kita gunakan untuk kemaslahatan umat, memecahkan serta mencarikan solusi permasalahan yang sedang mereka hadapi. Mencarikan obat ketika mereka ditimpa wabah penyakit. Pernahkan ki...

Mungkin

"mungkin bukan mereka yang sepenuhnya salah, kamunya aja yang gak pandai mensyukuri kehadiran mereka dengan semua kelebihan dan kekurangannya. masih punya hati kan? masih ada ruang kan? coba tulis yang baik-baik tentang mereka, bangunkan lagi cintamu. kalau kamu gak bisa berdamai dengan dirimu sendiri dan gak bisa memaafkan kesalahan orang lain. lalu bagaimana Allah akan memaafkan kesalahan-kesalahanmu?" #renungan sore

Ternyata Orang Tua Pernah Sedih

Hujan deras mengguyur Margonda sore itu. Buru-buru aku naik ke dalam angkot D11, karena gak bawa payung. Yang naik angkot ini hanya empat orang. Memasuki jalan akses UI, penumpangnya tinggal aku seorang. Hujan masih belum mau berhenti. Teringat pesan salah satu bapak dosen : coba sekali-sekali kalau naik kendaraan, ngobrol sama supirnya. Kebanyakan orang mah cuek-cuek aja sama sekitarnya. Padahal mereka kan juga manusia, bukan robot yang kerjanya nyupir semata. Daripada iseng bengong, coba nanya-nanya sama bapak supir angkot ini. “pak kalau narik pas musim hujan gini sepi ya?” “iya neng. Yaah namanya juga udah musimnya.” “oohhh.” “Neng kuliah apa kerja?” “Masih kuliah pak.” “Wah, bersyukur deh. Zaman sekarang mah pendidikan mahal.” “Iya pak. Mahal” “nih neng, saya perhatiin anak-anak kuliah zaman sekarang mah gaya-gayaan doang. Gak bener-bener kuliahnya. Mereka mah kagak tahu susahnya orang tua nyari uang buat ngebiayaiinnya. Mudah-mudahan mah si Eneng kagak kayak gi...

Catatan SD

Usiaku menginjak 5 tahun, ketika aku mengajukan permintaanku untuk belajar ke sekolah. Seperti biasa mama mengajakku belanja sayuran ditukang sayur, dan ketika itu banyak anak-anak kecil berjalan bebarengan memakai seragam dan membawa tas gemblok. Aku terus saja memandangi hingga mereka berlalu. Mama bertanya kepadaku, “ning, mau sekolah?”. Ohh mereka pergi ke sekolah? Kujawab “hu’um, iya”. Kemudian mama mengutarakan keinginanku ke bapak, seminggu setelah itu bapak mulai mencari-cari sekolah yang cocok. Tadinya aku mau dimasukkan ke TK Islam, tapi karena teman bapak bilang itu nanggung, akhirnya aku langsung dimasukkan ke SD. SDN Batu Ampar 10 pg, aku telat masuk seminggu di sekolah itu. Tapi karena dulu di Jakarta sekolahan ada banyak, tapi siswanya sedikit, jadi aku diterima (mungkin). Semua hal yang berkaitan dengan administrasi sekolah diurus oleh Bapak. Bapak tamatan SMA, sedangkan mama putus sekolah waktu SD karena kondisi keluarganya (tahu mindset orang tua zaman du...

Netiket

Ini sedikit berbagi ilmu dari workshop Netiket yang kuikuti tahun lalu dalam acara INAICTA 2012. Pembicaranya adalah Pepih Nugraha dari kompasiana.com. beliau mulai ngeblog sejak tahun 2005. Sebenarnya tidak ada yang mengajarkan etika berinternet. Namun ada suatu dorongan untuk “menciptakan suatu kebaikan”. Pun internet awalnya tentu dibuat untuk sebuah harapan yang baik, bisa menjembatani komunikasi. Maka netiket atau etika berinternet ada untuk menciptakan moral universal baik di dunia nyata dan dunia maya. Ketika kita masuk ke internet, kita memiliki kesempatan yang sama dengan semua orang di dunia. Masalahnya tinggal siapa yang bisa memanfaatkannya dengan benar. Kesempatan tersebut tidak datang sendiri, melainkan kita harus berusaha untuk mendapatkannya. Banyak informasi-informasi berguna yang ada di internet yang bisa kita manfaatkan sebagai peluang. Dahulu sebelum ada internet semuanya seba tertutup, namun sekarang hampir semuanya bisa diakses. Berikut beberapa netiket y...

Nasib Bimbingan PI

“Pokoknya proposal PI yang sudah di acc oleh dosen pembimbing kalian sudah harus masuk ke saya dua minggu dari sekarang. Yang sudah selesai boleh tanda tangan bukti ujian. Disini berapa orang yang sudah di acc proposalnya?.....” tanya dosen mata kuliah riset komunikasi. Kelas hening, hanya saling tengok kanan kiri. Nampaknya mayoritas mahasiswa kelas kami memang belum menunjukkan progress yang cepat untuk di acc oleh dosen pembimbing masing-masing, ya kecuali mahasiswa yang bimbingannya dengan beliau. Tiap dosen memang memiliki idealisme yang berbeda. Penulisan ilmiah (PI) sebenarnya hanya dua sks, tapi ini tugas yang meribetkan, rasanya hampir setara dengan menyusun skripsi. Aku tanya ke samping kanan, “sudah bimbingan berapa kali?” “sekali” jawabnya. Kutanya ke sebelah kiri dengan pertanyaan yang sama, jawabannya pun sama, sekali dan tentu saja belum di acc. Toooossslah. Nasibku juga begitu. Jadi teringan hari pertama bimbingan PI. Kukira dosen pembimbingku adalah seoran...