Langsung ke konten utama

Bahagia itu Sederhana



“Bahagia itu dekat, ada pada hati yang bersyukur”. (dari sebuah buku yang judul dan pengarangnya aku lupa siapa..hehe maaf ya :D)

Beberapa hal lain yang membahagiakan (menurutku) itu juga sederhana:
·           Diberi nikmat iman, islam, sehat oleh Allah :D Alhamdulillah (ini sih bukan sederhana).
·           Bangun dari tidur nyenyak tanpa bayang-bayang tugas, mimpi buruk tentang orang lain, atau hal-hal lain yang bikin dada terasa sempit.
·           Kumpul bareng keluarga dengan suasana yang nyaman tanpa ada pikiran-pikiran buruk satu dengan lainnya (kayaknya gak pernah inget pernah mengalami hal ini. haha)
·           Makan permen lollipop di ruang terbuka dengan udara segar tanpa harus tercemar polusi atau asap rokok.
·           Nonton film horror bareng-bareng sambil makan mie bebep, trus ngeliatin una, aina, dan ebi yang jejeritan sementara aku, dewi sama yayat cengo ngeliat mereka yang teriak-teriakan.
·           Jalan-jalan gratis, wifi-an gratis, makan gratis, ikut event gratis, hahaha mahluk gratisan :D kalau ada yang gratis kenapa harus murah, tapi tentu juga harus berkualitas.
·           Ngeliat orang ketawa lepas kayak gak ada beban, dan gak tahu karena alasan apa jadi ikut-ikutan ketawa juga.
Masih banyak yang lainnya, bentar ya diingat-ingat dulu deh.. hehe nanti dilanjutin lagi.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sebuah Nasihat yang (Tidak) Perlu Dimasukkan ke Hati

Jarang-jarang temanku berpendapat sebegini panjangnya. "Ning, selama berhubungan dengan manusia; ketulusan itu utopis banget. Apalagi zaman sekarang. Naif namanya kamu percaya dengan hal itu. Nih ya, mungkin kamu engga sadar; sebenernya orang-orang yang memberi kebaikan mereka ke kamu diam-diam mereka sedang menganggapmu seperti celengan. Suatu saat mereka pasti akan meminta kembali kebaikan itu darimu dalam bentuk yang lain. Lalu ketika kamu tidak bisa atau memilih untuk tidak ingin mengembalikan itu; mereka mulai mengungkit-ungkit aset apa yang sudah ditanamkannya  kepadamu. Kemudian dengan bias, kamu dianggap tidak sadar diri, tidak tahu balas budi, tidak tahu caranya bersyukur pada mereka. See??? Waspada saja kalau banyak orang baik yang terlalu baik disekitarmu, ingat ya; di dunia ini tuh gak ada yang mananya gratisan. Jangan percaya, bohong! Mungkin mulanya kamu sulit melihat ujungnya, tapi pasti ada yang tersembunyi dibalik itu. Terserah sih ma...

Belajar Menjadi Ibu Profesional

Setelah mengikuti kelas matrikulasi institut ibu profesional, ada banyak hal yang membuat mata saya terbuka lebih lebar. Ternyata menjadi ibu profesional itu tidak instan. Ada serangkaian proses yang perlu dipahami dan dijalani seorang perempuan. Baik dalam hal kapasitasnya sebagai seorang individu, seorang istri, maupun sebagai seorang ibu. Setiap proses-proses itu tentu ada pembelajaran dan ilmunya tersendiri. Dan seperti nasihat dari Imam ghazali bahwa ilmu itu bukanlah yang dihafal, melainkan yang ada di dalam dada; maka konsekuensinya dalam setiap pembelajaran di kelas ini dituntun agar dikerjakan secara nyata akan benar-benar terpahat di dada. Berikut saya akan mengulas beberapa hal yang menarik dari materi di kelas matrikulasi. #Week 1 Pada minggu ini, kami belajar tentang adab. Bahkan adab terhadap ilmu itu sendiri penting untuk diketahui. Sebab adab adalah prasyarat atas baiknya ilmu dan amal yang dijalankan. Menuntut ilmu sendiri merupakan proses untuk meningkatkan...

Keterbukaan Tanpa Beban

“Pada topeng, kita paling tidak belajar satu hal, ada wajah kita yang sejati, diri kita yang asli tersembunyi di sana. Untuk menemukan itu kembali, kita hanya perlu melepas topeng, sesederhana itu…” -Muhammad Akhyar Relasi yang baik, dibentuk dengan komunikasi yang baik pula. Semakin kita terbuka dengan orang lain, kepercayaan semakin terbangun. Semakin meningkatnya kepercayaan dalam sebuah relasi, semakin terasa nyaman pula kita untuk membuka siapa sejatinya diri kita. Tentu orang yang berharap menjalin relasi yang baik tidak dibangun dengan jalan kepura-puraan dan saling mencurigai. Hambatan terbesar sebenarnya bukan terletak pada bagaimana kita mengungkap dan coba memahami sosok asli di balik topeng lawan bicara kita. Tapi di awali dari sejauh mana kita berani untuk melepas topeng kita sendiri. Sejauh mana kita berusaha untuk terbuka dan merasa nyaman menjadi diri kita sendiri. Memang bukan hal yang ringan ketika kita mencoba melepas topeng. Kita sering malu bersikap, men...