Langsung ke konten utama

Another Bad Habit.

ia tidak dapat ditekan, dipaksa, dan bekerja di bawah target yang ketat. jika ia tidak menyukai tugas tersebut, rasa malas, takut, bimbang menyergapnya. akhirnya ia membiarkan semua tugasnya terbengkalai.
jika ia merasa tak ada gunanya belajar untuk ujian besok, ia tak akan menyentuh materinya, dan membiarkan ujian itu lewat saja di depan matanya.

saya meyakinkan diri bahwa apa yang saya lakukan adalah benar. bahwa menahan otak, ambisi, dan kemampuan diri ini adalah agar kami dapat berdiri pada ketinggian yang sama. butuh waktu bertahun kemudian, untuk menyadari bahwa seharusnya kalimat itu berbunyi "agar kami dapat berdiri pada KERENDAHAN yang sama".

#dikutip dari buku "la tahzan for broken muslimah"

***
cerita ini mirip seperti kejadian sehari-hari. seperti ketika diri berkeinginan untuk menjadi yang lebih baik, ada saja orang-orang yang tak berani keluar dari kungkungan zona nyaman. dongkol! mungkin kata yang tepat untuk merepresentasikan perasaan hati, ketika mencoba hal baru ada saja orang-orang yang berkata "mundur". kayak gak punya keyakinan saja. lemah.
pengennya ya, kalau menghadapi orang-orang seperti itu, menyekap mulutnya, mengikat dia, dan buang ke laut saja. atau nyuruh dia nguras lautan pakai gayung batok kelapa, biar tahu rasa (ahahahaha sadisnya). haha, daripada pikiran orang-orang seperti itu meracuni orang-orang yang ingin berkembang. membuat tunas harapan mati sebelum berkembang. fuaaah >.<"

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Karena Kaus Kaki

pernah ada seorang ikhwan yang menilai keakhwatan seorang perempuan lewat kaus kaki. dia bilang "coba aja perhatiin, kalau fulanah mah gak pake kaus kaki. jadi dia bukan akhwat" hhe? saya tertegun sejenak. berusaha mencerna hasil penilaian dia. aneh memang, ya saya pun merasa begitu. dalam hati gelak tawa menyeruak. tapi lisan tak berani bertingkah seperti apa yang ada di hati. oke, ini memang aneh. sampai saat ini kalau saya pikir-pikir memang masih aneh. atau sebenarnya memang dia yang aneh.

Ngebolang ke Mangga Dua Mall

Kamis, 4 Oktober 2012 Blacky mati suri ! Dan membuat saya galau setengah hidup. Oh iya, sebelumnya perkenalkan, Blacky adalah nama netbook saya tipe hp mini. Blacky itu kado dari orang tua di usia saya yang ke 18, terutama ibu yang gak tega kalau lihat saya pulang tengah malam dari rental untuk mengerjakan tugas-tugas kuliah. Orang-orang mengira kalau blacky itu anjing peliharaan saya, padahal bukan. Saya justru phobia sama anjing. Saya beri nama Blacky karena warnanya hitam dan biar saya gak takut lagi sama anjing (haha agak gak logis sih alasannya). Oke, yang jelas dia sekarang sekarat, harddisknya rusak. Harddisk blacky itu ibarat setengah memori otak saya. Segala data tugas kuliah, organisasi, hobi, karya ilmiah, sumber inspirasi, bahkan sampai hal-hal yang gak terlalu penting pun disimpan disana. Nyesek banget deh pas tahu kalau harddisknya harus diganti. Di teknisi sebelumnya ditawari harddisk dengan spesifikasi yang sama tapi saya belum cocok dengan harganya. Nah ...

Sebuah Nasihat yang (Tidak) Perlu Dimasukkan ke Hati

Jarang-jarang temanku berpendapat sebegini panjangnya. "Ning, selama berhubungan dengan manusia; ketulusan itu utopis banget. Apalagi zaman sekarang. Naif namanya kamu percaya dengan hal itu. Nih ya, mungkin kamu engga sadar; sebenernya orang-orang yang memberi kebaikan mereka ke kamu diam-diam mereka sedang menganggapmu seperti celengan. Suatu saat mereka pasti akan meminta kembali kebaikan itu darimu dalam bentuk yang lain. Lalu ketika kamu tidak bisa atau memilih untuk tidak ingin mengembalikan itu; mereka mulai mengungkit-ungkit aset apa yang sudah ditanamkannya  kepadamu. Kemudian dengan bias, kamu dianggap tidak sadar diri, tidak tahu balas budi, tidak tahu caranya bersyukur pada mereka. See??? Waspada saja kalau banyak orang baik yang terlalu baik disekitarmu, ingat ya; di dunia ini tuh gak ada yang mananya gratisan. Jangan percaya, bohong! Mungkin mulanya kamu sulit melihat ujungnya, tapi pasti ada yang tersembunyi dibalik itu. Terserah sih ma...