Langsung ke konten utama

Blue Spring Ride (1)

Blue Spring Ride adalah film remaja yang bercerita tentang persahabatan dan cinta. Film ini diangkat dari sebuah komik dengan judul yang sama. Bagaimana ceritanya? Yuk disimak!

Yoshioka Futaba, seorang gadis remaja SMA yang memilih untuk fokus pada pertemanan dibandingkan cinta. Begitu tekad Futaba. Kisahnya diawali pada saat Futaba baru masuk kelas di semester baru dan mengobrol dengan ketiga temannya. Sedang di kursi depan ada 3 siswa laki-laki yang membicarakan Futaba dan juga memperhatikan ketiga teman Futaba lainnya. 

Menurut mereka Futaba cantik, dan berupaya untuk mendekati Futaba. Futaba yang melihat gelagat tidak enak dari ketiga temannya kemudian sengaja menjatuhkan tasnya ke lantai hingga isi tas tersebut berhamburan ke luar. Melihat tingkah Futaba yang seperti itu, ketiga laki-laki tadi menjadi kehilangan minat untuk meneruskan niatnya mendekati Futaba. Mereka beralih mendekati Makita Yuuri, seorang gadis imut yang sedang duduk sendirian di deretan meja depan. Ketiga teman Futaba yang melihat hal itu menjadi tidak suka terhadap Yuuri.

Saat istirahat, Futaba dan temannya melewati lorong menuju ruang kelas sambil memegang roti. Ketiga temannya membahas Makita Yuuri, lebih tepatnya menjelek-jelekan Yuuri sambil membandingkannya dengan Futaba. Menurut mereka, penampilan Futaba jauh dari kata feminin. Seandainya Futaba seperti itu, ia bisa menjadi populer. Futaba sebenarnya tidak mau terlalu menarik perhatian orang lain, terutama laki-laki. Kemudian temannya bertanya lagi, apa futaba tidak pernah jatuh cinta?. Futaba buru-buru menjawab bahwa ia tidak pernah sama sekali jatuh cinta. Di dalam hati, Futaba mengaku bahwa ia tengah berbohong pada ketiganya. Futaba kemudian menegaskan bahwa persahabatan yang lebih penting.

Tepat disaat itu tanpa sengaja Futaba bersenggolan dengan seseorang. Salah satu roti yang dipegangnya terlepas dari genggaman. Dengan sigap, orang yang berpapasan dengan Futaba segera menangkap roti itu dan meletakkannya kembali di tangan Futaba. Belum sempat Futaba melihat wajah orang itu, jaketnya yang juga ikut terjatuh sudah  di lemparkan ke atas kepala menutupi pandangan Futaba. Kejadian itu mengingatkan Futaba pada cinta pertamanya saat SMP, Tanaka yang juga melemparkan baju ke kepala Futaba. Temannya bertanya bukan kah itu anak yang baru pindah?.

Futaba menoleh dan memperhatikan laki-laki yang tadi menabraknya berjalan menjauh. Kemudian tiba-tiba ia menitipkan barang bawaanya pada temannya. Futaba bergegas lari mengejar laki-laki itu yang berjalan menuruni tangga. 

“Tanaka!” panggil futaba. Sayangnya pada saat yang bersamaan ada orang lain yang juga memanggil laki-laki itu dengan sebutan, “Mabuchi!”. Futaba segera bersembunyi di balik tembok begitu ia mengira bahwa ia telah salah orang.     

Diperjalanan pulang, Futaba masih memikirkan kejadian tadi. Ia terkejut karena laki-laki yang ada dalam pikirannya sedang berjalan di depannya. Futaba berjalan di belakang sambil mengendap-endap mengikuti. Laki-laki itu berhenti dan memandang ke langit, merasakan sesuatu di udara. Tiba-tiba saja hujan deras turun saat cuaca sedang cerah. 

Futaba yang terkejut dengan perubahan cuaca yang mendadak, menaikkan tasnya ke atas kepala dan berlari menuju kuil terdekat untuk berteduh. Tenyata di sana sudah ada laki-laki tadi yang juga berteduh dari hujan sambil berjongkok. Lagi-lagi Futaba teringat masa lalunya.

Futaba akhirnya memberanikan diri untuk menyapa, “Tanaka?”
“Aku Mabuchi.” Jawab laki-laki itu.
“Maaf, aku salah.” Sahut Futaba sambil berbalik hendak pergi karena merasa sangat malu.
“Tiba-tiba hujan ya?” kata laki-laki itu.
Futaba terkejut karena yang diucapkan orang itu sama seperti yang diucapkan Tanaka dulu di tempat yang sama pula. Futaba pun berbalik, namun yang dilihatnya hanya laki-laki dengan tatapan dingin. Bersamaan dengan hujan yang reda, tiba-tiba laki-laki itu tersenyum padanya.
“Sudah kuduga… Tanaka.. Tanaka Kou!” seru Futaba.
“Sudah kubilang namaku Mabuchi. Sekarang aku Mabuchi Kou. Orang tuaku bercerai” jawab Kou sambil bangkit berdiri. Setelah kedua orang tua Kou bercerai, ia pindah ke Nagasaki mengikuti ibunya. Sedangkan kakaknya tinggal bersama ayahnya di kota ini.

Futaba merasa aneh dengan Kou yang sekarang, menurutnya Kou tidak seperti saat SMP dulu yang murah senyum dan sangat baik. Futaba teringat bahwa dulu Kou mengajaknya ke festival kembang api di Taman Sankaku jam 7 malam. Futaba menunggu Kou di tempat itu, tapi Kou tidak datang. Keesokan harinya juga Kou tidak pernah muncul lagi di kelasnya. Kou menghilang dari hidup Futaba dan sekarang tiba-tiba muncul lagi. Futaba kebingungan.

Esoknya saat di Kantin sekolah Futaba membeli roti seperti biasa. Namun sayang kantong plastik untuk membawa roti yang sudah dibeli Futaba habis, dan ibu penjual pergi mencari plastik. Kemudian Futaba merasa tidak apa-apa membawa roti-roti yang banyak itu di tangannya. Ia pun keluar dari kerumunan pembeli. Tiba-tiba ibu penjual satunya berteriak dan menuduhnya dengan galak bahwa Futaba belum membayar roti. Padahal Futaba sudah bayar ke ibu yang satunya. Alih-alih membela, ketiga teman Futaba justru menyuruh Futaba untuk minta maaf dan membayar kembali roti tersebut karena mereka malu menjadi perhatian seisi kantin. 

Makita Yuuri hendak membela Futaba, tapi keduluan oleh Kou yang muncul dari belakang antrian. Murao Suuko, teman sekelas Futaba juga memberi kesaksian bahwa Futaba sudah bayar. Kominato, teman dekat Kou, juga mengiyakan. Ibu penjual yang mencari plastik kembali dan bilang bahwa Futaba sudah membayar. Setelah tahu kebenarannya, Ibu penjual yang marah-marah tetap seenaknya dan menyuruh Futaba untuk menyingkir dari antrian. Ketiga teman Futaba mengejek si Ibu penjual itu.

Kou pun mengomentari ketiga teman Futaba, kemudian menoleh ke Ibu penjual dan memintanya untuk meminta maaf pada Futaba. Semua orang melihat ibu itu. Baru kemudian si ibu meminta maaf walau dengan terpaksa. Kou lalu pergi dari kantin, dan Futaba mengejarnya untuk berterima kasih.

Di sini kata-katanya Kou sangat dalam. Dia bilang pada Futaba kalau hal-hal kecil bisa membuatnya lebih baik, maka Futaba murahan, pertemanan yang dibangun Fubata juga dangkal. Futaba menyangkal dan bilang bahwa pertemanannya itu yang terpenting. Kou membalas kalau begitu pertemanannya palsu dan itu mengerikan. Kou pun pergi meninggalkan Futaba yang merasa sedih. Dalam hati Futaba bilang bahwa meski mereka cuma berpura-pura, setidaknya itu lebih baik daripada sendirian. 

Aku suka gaya Kou di sini. Aku lebih baik sendirian daripada menjalani pertemanan yang palsu. Kalaupun tetap harus berinteraksi, hanya sebatas hal-hal umum sesuai keperluan. Punya teman yang sering membicarakan keburukan orang lain karena dengki itu tidak seru. Punya teman yang mendekat hanya karena ingin memanfaatkan kelebihan yang kita punya juga membosankan, tentu mereka akan pergi setelah tidak ada lagi bagian dari diri kita yang bisa dimanfaatkan olehnya. That’s why aku sangat menghargai orang yang ingin menjalin pertemanan dengan tulus.

Bersambung...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kutipan Menarik dari Buku Seperti Hujan yang Jatuh ke Bumi

Buku “Seperti Hujan yang Jatuh ke Bumi” karangan Boy Candra ini saya beli beberapa hari yang lalu. Kalau ada yang bilang jangan menilai sebuah buku hanya dari sampulnya saja, mungkin saya adalah bagian dari sebuah anomali. Nyatanya, keputusan saya untuk membeli novel ini sebagian besar ditentukan oleh apa yang ditampilkan pada bagian sampulnya. Saya tertarik membeli sebab sampul bukunya yang sederhana dengan ilustrasi dua orang yang berada di bawah hujan ditambah beberapa kalimat narasi di sampul belakang buku.  Ini pertama kalinya saya membaca karya dari Boy Candra. Sebuah novel yang cukup renyah untuk dicerna. Hanya perlu waktu setengah hari untuk menyelesaikan buku setebal 284 halaman ini. Berlatar belakang dunia perkuliahan, tokoh Kevin, Nara, Juned, dan Tiara dipertemukan. Kevin dan Nara sudah bersahabat sejak kecil. Diam-diam ia memendam perasaan pada Nara. Nara yang tidak tahu bahwa Kevin punya perasaan lebih padanya, pernah meminta Kevin untuk menjadi sahabat selaman...

Menulis Untuk Sabtulis

Dear Readers ! Pertama-tama, terima kasih sudah mampir ke blog saya. Yeay, kamu beruntung karena ada persembahan khusus di minggu ini. Sebuah tulisan tentang menulis. Lho bukannya sudah pernah menulis tentang menulis, Ning? Nope , kali ini berbeda. Saya akan sedikit bercerita tentang Sabtulis , sebuah gerakan untuk bersama-sama produktif menulis. Selamat datang dan selamat menengok dapur kecil kami melalui tulisan singkat ini. Supaya asyik, saya akan ditemani oleh seorang interviewer berinisial M. Ya, pokoknya sebut saja dia M (Misteri?). M    : Apa yang menjadi ide awal memulai Sabtulis dan dengan siapa kamu memulainya? Y    : Berawal dari percakapan dengan seorang sahabat nan jauh di Timur Jawa berinisial B tentang blog. Mr. B ini bekerja dibidang media dan jurnalistik. Kebetulan Mr. B cukup aktif menulis blog dan memang pekerjaan sehari-harinya berkaitan dengan tulisan. Berbanding terbalik dengan saya yang blognya sudah dipenuhi sarang laba-laba. Terakhir...

Donat Kok Gitu

Sebelum cerita panjang lebar, saya ada pemberitahuan terlebih dahulu. Di dalam tulisan ini akan banyak bahasa gaul dan ejaan yang mungkin tidak sesuai, so mohon dibawa santai. Oke sist, oke bro? Hehe Dipostingan kali ini saya mau cerita tentang eksperimen bikin donat kemarin. Sebelum-sebelumnya sudah pernah bikin donat, tapi hasilnya selalu berubah-ubah, belum ada yang mantap. Kali ini saya mencoba resep baru yang saya temukan dari salah satu media yang khusus memuat resep kue. Berhubung saya ga punya alat takar di rumah, jadi dikira-kira aja deh takaran bahan-bahannya. Pas semua bahan udah dicampur adonannya engga kalis, masih lengket-lengket gimana gitu. Sepertinya air yang saya masukkan terlalu banyak. Yasudah abis itu  ditambahin terigu sedikit demi sedikit. Eh tetep masih lengket. Niatnya cuma mau bikin seperempat kilo. Nyatanya kebablasan sampai setengah kilo terigu abis untuk bahan adonan 😂. Trus pas bikin donat tadi, hasil adonannya bagus. Alhamdulillah bi...