jika kita ingin
memahami suatu peristiwa, kita tidak dapat meneliti fakta-fakta yang terpisah;
kita harus memandangnya dalam hubungan keseluruhan. Untuk memahami seseorang,
kita harus melihatnya dalam konteksnya, dalam lingkungannya, dalam masalah yang
dihadapinya. Ibarat mencintai seseorang, meskipun hal itu disimpan dalam ruang
yang sunyi, sejauh mana kita bisa menerima orang itu lengkap dengan keseluruhan
hidupnya. Atau jangan-jangan selama ini kita hanya kagum pada kebaikannya
kemudian menutup mata pada kehidupannya yang lebih luas. Melihatnya dengan
kacamata terpisah, melihatnya hanya sebagai individu. Namun menolak untuk
melihat tentang orang-orang dan segudang pengalaman yang lebih dahulu mengisi
kehidupannya.
Dear Readers ! Pertama-tama, terima kasih sudah mampir ke blog saya. Yeay, kamu beruntung karena ada persembahan khusus di minggu ini. Sebuah tulisan tentang menulis. Lho bukannya sudah pernah menulis tentang menulis, Ning? Nope , kali ini berbeda. Saya akan sedikit bercerita tentang Sabtulis , sebuah gerakan untuk bersama-sama produktif menulis. Selamat datang dan selamat menengok dapur kecil kami melalui tulisan singkat ini. Supaya asyik, saya akan ditemani oleh seorang interviewer berinisial M. Ya, pokoknya sebut saja dia M (Misteri?). M : Apa yang menjadi ide awal memulai Sabtulis dan dengan siapa kamu memulainya? Y : Berawal dari percakapan dengan seorang sahabat nan jauh di Timur Jawa berinisial B tentang blog. Mr. B ini bekerja dibidang media dan jurnalistik. Kebetulan Mr. B cukup aktif menulis blog dan memang pekerjaan sehari-harinya berkaitan dengan tulisan. Berbanding terbalik dengan saya yang blognya sudah dipenuhi sarang laba-laba. Terakhir...
Komentar
Posting Komentar