jika kita ingin
memahami suatu peristiwa, kita tidak dapat meneliti fakta-fakta yang terpisah;
kita harus memandangnya dalam hubungan keseluruhan. Untuk memahami seseorang,
kita harus melihatnya dalam konteksnya, dalam lingkungannya, dalam masalah yang
dihadapinya. Ibarat mencintai seseorang, meskipun hal itu disimpan dalam ruang
yang sunyi, sejauh mana kita bisa menerima orang itu lengkap dengan keseluruhan
hidupnya. Atau jangan-jangan selama ini kita hanya kagum pada kebaikannya
kemudian menutup mata pada kehidupannya yang lebih luas. Melihatnya dengan
kacamata terpisah, melihatnya hanya sebagai individu. Namun menolak untuk
melihat tentang orang-orang dan segudang pengalaman yang lebih dahulu mengisi
kehidupannya.
Apa kabar? Sehat? Kamu baik-baik saja hari ini? Well, sebenernya aku ga terlalu suka dengan pertanyaan ini. Kenapa? Karena aku cuma punya dan hanya bisa menjawab “baik”. Mungkin karena dari dulu, yang diajarkan guruku, dan bahkan dibuku-buku kebanyakan ditulis jika ada yang bertanya tentang keadaan, jawabannya adalah “baik”. Bahkan buku bahasa inggris pun percakapannya seperti ini : X : “how are you today?” Y : “I am fine.” FINE… Aku ga tahu mengapa jawabannya selalu seperti itu, mungkin sejak dari dini kita memang diajarkan untuk menjadi baik. Yaah.. atau mungkin secara tidak langsung ditanamkan ketika dirimu sedang tidak “baik” maka berpura-puralah kamu sedang baik-baik saja. Paling tidak, sedang mencoba berusaha untuk menjadi baik. Baik. Aku rasa itu juga kata yang ampuh ketika seseorang sedang penasaran tentangmu, dan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang mungkin mereka miliki, yang tentunya tak ingin kau jawab. Ja...
Komentar
Posting Komentar