Langsung ke konten utama

Keliling Malang Dengan Teman Baru

Hidup itu banyak kejutan, salah satunya bertemu dengan orang ini. Orang asing yang entah dari mana tiba-tiba muncul diantara ribuan teman facebook padahal relasi pertemanan diantara kami bisa dibilang sedikit. Random sekali. Buat saya yang introvert, menyapa orang asing tanpa tujuan tertentu (sekedar basa-basi misalnya) adalah pilihan terakhir yang akan saya lakukan. Apalagi kalau lawan bicara yang saya sapa lama balasnya, sekalinya menjawab, jawabannya singkat saja seperti menjaga jarak dan kurang antusias. Mengingat karakter manusia digital zaman sekarang yang cenderung ingin mendapatkan respon dengan cepat, maka saya bisa bilang bahwa orang ini punya potensi unik. Orang yang sabar menunggu dan tetap antusias menyapa. Pun kalau saya mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang kadang bisa dikategorikan “tidak biasa”, orang ini punya jawaban dengan perspektif lain, semacam otentik. Oke orang ini berhasil melewati satu gerbang dunia introvert yang saya punya.  Welcome friend!

Nah hari kedua & ketiga di Malang Raya, saya menjelajah bareng teman saya ini; yang secara fisik belum pernah ditemui sebelumnya. Seru juga. Destinasi utama hari kedua adalah Pantai. Bagus merekomendasikan untuk ke Pantai Sendang Biru. Kami berangkat sekitar jam 7 pagi. Perjalanan ke Pantai Sendang Biru kurang lebih memakan waktu sekitar 3 jam dengan mobil. Jalur ke pantai ini bisa dibilang cukup baik karena sudah di aspal. Kalau nanti kamu berminat ke tempat ini, selama diperjalanan kita akan melalui beragam medan mulai dari jalanan lurus, berkelok, tanjakan, dan juga turunan khas perbukitan. Macet kah Ning? Tidak sama sekali, haha suka deh dengan perjalanan yang lancar jaya dan Alhamdulillahnya pagi itu cerah. Oiya kita juga akan banyak disuguhkan pemandangan menarik seperti pepohonan yang berjejer, hutan, langit yang luas, juga beberapa persawahan.

Pantai Sendang Biru

Pantai di Malang ini masuk ke dalam kategori pantai selatan, lautan lepas dengan ombak yang cukup ganas. Menariknya adalah pantai ini memiliki dua warna pasir yang berbeda. Pasir hitam pekat dan pasir putih agak kecokelatan. Di pantai  Sendang Biru kita juga bisa melihat gradasi air laut mulai dari yang berwarna kebiruan, toska, hingga cokelat. Air laut yang berwarna cokelat itu berasal dari muara di dekat pantai. Katanya di seberang pantai ini ada pulau kecil, tapi pelabuhan untuk menyeberangnya di sebelah mana ya? Oke deh kapan-kapan kalau baik lagi ke Malang, mari lihat tempat itu. Saran nih untuk ukhti-ukhti yang mau main ke pantai tapi tak berniat untuk berenang, harap membawa kaos kaki double buat berjaga-jaga siapa tahu waktu berjalan di bibir pantai kakimu tak sengaja disapa ombak.


Ombaknya cukup besar

Pasir hitam

Mulai peralihan warna pasir


Pasir putih

Fasilitas di Pantai Sendang Biru ini lumayan memadai. Ada camping ground, beberapa gazebo untuk bersantai dan menikmati angin, lahan  parkir, mushola, beberapa warung makanan, serta toilet yang cukup banyak.

Perjalanan selanjutnya adalah mencari kuliner untuk mengisi tenaga. Pasti tahu kan apa yang terkenal dari Malang? Yup Bakso Malang. Kami singgah di Bakso Malang Damas yang terletak di Jl. Soekarno Hatta No. 70. Di tempat ini ada banyak pilihan jenis isi bakso, mulai dari bakso urat, bakso telur, bakso telur burung puyuh, bakso kecil, mie kuning, bihun, dan beberapa jenis pangsit isi. Bebas lho untuk ambil sendiri variasi bakso malang versi kita. Yummy! Perut saya langsung full tank dari sini. Sayangnya lupa ambil gambar tempat ini karena terlalu fokus makan.

Alun-alun Kota Wisata Batu

Pohon lampu

Bianglala Kota Wisata Batu

Odong-odong ala Batu-Malang

Setelah tenaga terisi penuh, tempat selanjutnya yang kami datangi adalah Alun-Alun Kota Wisata Batu. Kesan pertama saat saya tiba di tempat ini adalah ramai sekali, mungkin karena malam minggu jadi banyak orang jalan-jalan ke luar. Agak sulit mencari tempat parkir memang. Alun-alun ini lokasinya dekat dengan Masjid, strategis sekali untuk wisatawan muslim yang mau berekreasi dengan tidak meninggalkan waktu sholat. Alun-alun Kota Wisata Batu cukup ikonik dengan sebuah bianglala besar. Kalau kamu mau naik ini di malam minggu, harus rela antri ya karena cukup banyak peminatnya. Selain itu juga ada air mancur, pepohonan yang berhias lampu-lampu cantik, juga patung apel dan beberapa patung hewan. Buat kamu yang suka horor, kalau mau narsis bareng ‘hantu’ juga ada kok. Well, cukup menegangkan juga sih hehe. Kalau berani boleh dicoba.

Pemadangan Kota Malam Hari

Mumpung Kota Batu itu lokasinya ada di atas -sebagai penutup hari Sabtu- kami pergi ke tempat yang bisa melihat pemandangan kota malam hari. Semakin ke atas, suhunya semakin dingin ditambah sedang gerimis. Memang paling enak makan/minum sesuatu yang hangat. Dan pemandangan kota dari atas sini memang menyejukkan mata. Banyak lampu-lampu terlihat berkelap-kelip seperti bintang di langit malam. Jadi mau lihat pemandangan langit penuh bintang di malam yang cerah deh, dan ini jadi salah satu hal yang belum kesampaian. Mustahil bisa kelihatan dari atas genteng rumah di Depok. Semoga punya waktu dan rezeki untuk bisa lihat dengan mata kepala sendiri serta mengabadikannya dalam bentuk foto/video. Maybe next trip, ada yang mau ikut?

Hari kedua cukup menyenangkan, tapi lumayan menguras energi juga. Bagus pulang ke rumah & saya balik ke homestay. niatnya ketika tiba di homestay adalah beberes, sholat, dan menulis untuk sabtulis. Apa daya setelah ishoma, ketemu bantal dan kasur malah jadi bablas tertidur. Saya khilaf, maafkan yaaa sabtulis tanggal 3 Februari ter-skip (semacam pengakuan dosa). Terima kasih Bagus sudah mau jadi tour guide jelajah malang. Intinya kota ini layak sekali untuk dikunjungi.

__________________________

Depok, 10 Februari 2018; berbagi pengalaman dengan #sabtulis. Sabtulis (Sabtu Menulis) adalah gerakan menulis di hari Sabtu. Kamu bisa menuliskan tentang gagasan, cerita, puisi, prosa, ataupun hal lain yang ingin kamu ekspresikan melalui tulisan. Yuk Ikutan! Mengenal diri, mengapresiasi diri, dan menjadi lebih percaya diri.

Komentar

  1. Romantis bet Yaa jejak kaki nya *uppsss 😝

    BalasHapus
    Balasan
    1. Apa pun yang jalan sama aku pasti kamu bilang romantis nop 😎

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kutipan Menarik dari Buku Seperti Hujan yang Jatuh ke Bumi

Buku “Seperti Hujan yang Jatuh ke Bumi” karangan Boy Candra ini saya beli beberapa hari yang lalu. Kalau ada yang bilang jangan menilai sebuah buku hanya dari sampulnya saja, mungkin saya adalah bagian dari sebuah anomali. Nyatanya, keputusan saya untuk membeli novel ini sebagian besar ditentukan oleh apa yang ditampilkan pada bagian sampulnya. Saya tertarik membeli sebab sampul bukunya yang sederhana dengan ilustrasi dua orang yang berada di bawah hujan ditambah beberapa kalimat narasi di sampul belakang buku.  Ini pertama kalinya saya membaca karya dari Boy Candra. Sebuah novel yang cukup renyah untuk dicerna. Hanya perlu waktu setengah hari untuk menyelesaikan buku setebal 284 halaman ini. Berlatar belakang dunia perkuliahan, tokoh Kevin, Nara, Juned, dan Tiara dipertemukan. Kevin dan Nara sudah bersahabat sejak kecil. Diam-diam ia memendam perasaan pada Nara. Nara yang tidak tahu bahwa Kevin punya perasaan lebih padanya, pernah meminta Kevin untuk menjadi sahabat selaman...

Menulis Untuk Sabtulis

Dear Readers ! Pertama-tama, terima kasih sudah mampir ke blog saya. Yeay, kamu beruntung karena ada persembahan khusus di minggu ini. Sebuah tulisan tentang menulis. Lho bukannya sudah pernah menulis tentang menulis, Ning? Nope , kali ini berbeda. Saya akan sedikit bercerita tentang Sabtulis , sebuah gerakan untuk bersama-sama produktif menulis. Selamat datang dan selamat menengok dapur kecil kami melalui tulisan singkat ini. Supaya asyik, saya akan ditemani oleh seorang interviewer berinisial M. Ya, pokoknya sebut saja dia M (Misteri?). M    : Apa yang menjadi ide awal memulai Sabtulis dan dengan siapa kamu memulainya? Y    : Berawal dari percakapan dengan seorang sahabat nan jauh di Timur Jawa berinisial B tentang blog. Mr. B ini bekerja dibidang media dan jurnalistik. Kebetulan Mr. B cukup aktif menulis blog dan memang pekerjaan sehari-harinya berkaitan dengan tulisan. Berbanding terbalik dengan saya yang blognya sudah dipenuhi sarang laba-laba. Terakhir...

Donat Kok Gitu

Sebelum cerita panjang lebar, saya ada pemberitahuan terlebih dahulu. Di dalam tulisan ini akan banyak bahasa gaul dan ejaan yang mungkin tidak sesuai, so mohon dibawa santai. Oke sist, oke bro? Hehe Dipostingan kali ini saya mau cerita tentang eksperimen bikin donat kemarin. Sebelum-sebelumnya sudah pernah bikin donat, tapi hasilnya selalu berubah-ubah, belum ada yang mantap. Kali ini saya mencoba resep baru yang saya temukan dari salah satu media yang khusus memuat resep kue. Berhubung saya ga punya alat takar di rumah, jadi dikira-kira aja deh takaran bahan-bahannya. Pas semua bahan udah dicampur adonannya engga kalis, masih lengket-lengket gimana gitu. Sepertinya air yang saya masukkan terlalu banyak. Yasudah abis itu  ditambahin terigu sedikit demi sedikit. Eh tetep masih lengket. Niatnya cuma mau bikin seperempat kilo. Nyatanya kebablasan sampai setengah kilo terigu abis untuk bahan adonan 😂. Trus pas bikin donat tadi, hasil adonannya bagus. Alhamdulillah bi...