Langsung ke konten utama

Lewat Diary Rahma

Sebingkai uraian : cerpen ini sebenarnya dibuat untuk memenuhi tugas pelajaran Bahasa Indonesia, waktu SMA dulu (rasanya sudah lama sekali). Dibuat pada zaman ababil, alias ABG labil. Cerpen pertama yang berhasil ada endingnya (hahaha biasanya bikin cerpen gak berending alias putus di tengah jalan). Oiya, terima kasih untuk orang-orang yang namanya sudah bersedia saya pinjam sebagai tokoh di cerpen ini (maaf, cerpen ini ternyata gak bisa kamu baca-pada waktu itu- karena datanya hilang terkena virus). Untuk memenuhi janji, saya tulis ulang, mungkin ada beberapa bagian yang tidak sama persis dengan aslinya. Selamat menikmati, sebuah cerita cinta fiksi tidak romantis, hehehe.
                                                                   ****


                Pria itu melangkah dengan tas kantor terjinjing dilengannya memasuki sebuah rumah kecil yang sederhana. Merebahkan tubuhnya dalam hangat dekap sofa. Kepalanya menengadah menatap langit-langit rumah dan mendesah. Menguapkan lelah. Wajahnya sedikit bercampur debu dan keringat, tapi tak memudarkan garis-garis kharisma yang terlukis jelas di sana. Mata hitamnya menerawang menjelajahi sekeliling rumah. Sepi sekali, batinnya.
                Pandangannya jatuh tepat ke atas meja. Sebuah buku tebal yang terlihat tua dengan gambar padang ilalang tergeletak rapat. Segera saja ia mengambil buku itu dan perlahan membukanya. “Sepertinya sudah lama. Milik siapa ini? Tak ada namanya. Tapi, tulisan tangan ini..”
              Rasa heran dan penasaran memacunya untuk menelusuri buku itu. beberapa lembar dibukanya secara acak, dan terhenti pada sebuah halaman.  

       November 2003
                Kita sama-sama berada pada kelas baru, dan disinilah pertama kali aku mengenalmu. Seiring berjalannya waktu, aku mulai mengerti tentangmu. Tentang kebiasaanmu yang pendiam dan penyendiri. Walau begitu, kau sangat menyebalkan. Mengapa selalu menggangguku? Ada saja ulahmu yang membuatku kesal. Bahkan saat ujian, masih saja menjahiliku. Kau tahu, nilaiku anjok karena tak bisa konsen belajar!!! Tapi rasanya aneh. Walau begitu sebalnya, aku tak bisa memarahimu, atau bahkan membencimu. Akhir-akhir ini, rasanya bertambah aneh. Kenapa juga aku jadi memikirkanmu.
                Jujur, aku tak tahu kapan aku mulai memperhatikanmu.
                Aku tak tahu mengapa perhatianku mulai tertuju padamu.
                Apa aku sedang tidak waras?
                Tapi jujur, yang kutahu aku mulai menyukaimu.

                “Ditulis 6 tahun yang lalu. Aku yakin ini tulisan Rahma. Kemana dia?” sekali lagi pria itu mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan, tetap sepi. Rahma, orang yang baru saja menjadi teman hidupnya, namun bukan orang baru dalam masa lalunya. Ia beranjak ke halaman lain dibuku itu.


Aku takut bila yang kutulis hanya tentangmu, karena dalam pikirku lagi-lagi yang muncul dirimu. Aku ingin melarikan diri. Atau setidaknya bisakah aku amnesia tentangmu?
Kepalaku tertunduk. Aku harus apalagi?
Sepertinya, aku melihat cinta dalam dirimu.
Aku tahu, rasaku sebatas sendirian.
Kau membuatku jatuh dalam kubangan, dan lumpur perasaan ini semakin pekat melekat.
Aku tak ingin menjadi pengecut, yang membohongi diri sendiri.
Bisakah ini menjadi nyata?

Maret 2004
          Kututup perasaan ini hingga tak ada seorang pun yang tahu, tidak juga kau.

April 2004
                Aku ingin menyukaimu seperti yang kubisa. Tak apa, hanya sesederhana yang kubisa.

Aku tak menyangka, selama ini ada orang lain dalam hatinya. Salahkah aku menikah denganmu Rahma? Pertanyaan dan keraguan menyerang benak pria itu. Hatinya bergemuruh. Dipegangnya erat buku itu, membalikkan halaman-halaman berikutnya. Wajahnya mulai muram memucat.

Juni 2004
Hari ini seperti kopi pahit.
Bahkan lebih pahit dari biasanya.
Hingga hanya rasa pahit yang tertinggal di dasar kerongkongan.
Aku baru tahu sebuah rahasia.
Rahasia yang sebaiknya aku tak tahu.
Hari ini Bunga, sahabatku, bercerita padaku tentang sesuatu yang membuatnya resah tak karuan.
“Rahma, aku sudah gak kuat. Aku harus cerita sama seseorang. Kamu kan sahabatku, ssst.. ayo dengar ya.. rasanya aku sudah lama punya rasa ini, aku gak tahu lagi harus gimana.”
“ehemmm… ada apa nih? Lanjut lanjut, bakalan ada yang seru nih !” dengarku antusias.
“ihhh, serius tahu. Jangan bercanda mulu!” wajahnya mulai cemberut.
“iya deh, aku serius nih. Ada apa sih sobatku tersayang?”
“ummnn.. aku gak tahu kapan mulai jatuh cinta sama dia. Ini mengalir begitu saja. Biasanya kalau sama orang lain itu sebatas kagum, tapi yang ini beda! Aku gak tahu kenapa. Aku ngerasa dia terlalu baik.”
“oooo.. jadi apa masalahnya?”
“ihhh.. masalahnya aku suka dia. Aku udah coba ngelupain perasaan itu. tapi semakin dicoba, semakin dia gak mau hilang dari otakku. Jadi aku harus gimana? Bantuin dong!”
“emang siapa sih orang itu yang udah bikat sobatku si Bunga jadi gak karuan gini?”
“ huh ! kamu itu bercanda terus. Dia itu…..”
Aku gak pernah menyangka bahwa sebuah nama yang diucapkan Bunga adalah namamu. Orang yang sama, yang juga mengganggu hari-hariku. Tiba-tiba saja aku merasa hatiku seperti gelas kaca yang jatuh menjadi kepingan.
Ya Tuhan, aku harus bagaimana? Apa yang harus kukatakan pada Bunga? Apa aku harus bilang : “wow kita jatuh cinta pada orang yang sama”. Tak mungkin!
Pilu, nyeri, bingung, semuanya bergumpal menjadi satu. Dunia terasa sempit, dan aku mulai sulit bernapas. Aku butuh udara.
“hey! Rahma, kok malah bengong sih?” aku tersenyum pasi.
“tuh kan, gak percaya. Jadi gimana jawabannya?” lanjutnya mengharapkan jawabanku.
“hemmn.. gak tahu juga sih, tar kalau sudah tahu kuberi tahu deh. Oiya, aku mau ke toilet dulu ya..” sambil memegang perut yang terasa bergolak dan kepala yang terasa pening, aku buru-buru keluar kelas. Dan… duuuggg!!! Kepalaku terasa tambah pusing. Ada benjolan merah yang muncul dikeningku.
“aduuhh.. malah kejedot tembok pula, malangnya nasibku.”

To be continue…

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menulis Untuk Sabtulis

Dear Readers ! Pertama-tama, terima kasih sudah mampir ke blog saya. Yeay, kamu beruntung karena ada persembahan khusus di minggu ini. Sebuah tulisan tentang menulis. Lho bukannya sudah pernah menulis tentang menulis, Ning? Nope , kali ini berbeda. Saya akan sedikit bercerita tentang Sabtulis , sebuah gerakan untuk bersama-sama produktif menulis. Selamat datang dan selamat menengok dapur kecil kami melalui tulisan singkat ini. Supaya asyik, saya akan ditemani oleh seorang interviewer berinisial M. Ya, pokoknya sebut saja dia M (Misteri?). M    : Apa yang menjadi ide awal memulai Sabtulis dan dengan siapa kamu memulainya? Y    : Berawal dari percakapan dengan seorang sahabat nan jauh di Timur Jawa berinisial B tentang blog. Mr. B ini bekerja dibidang media dan jurnalistik. Kebetulan Mr. B cukup aktif menulis blog dan memang pekerjaan sehari-harinya berkaitan dengan tulisan. Berbanding terbalik dengan saya yang blognya sudah dipenuhi sarang laba-laba. Terakhir...

Kutipan Menarik dari Buku PhD Parents' Stories

Halo pembaca, kali ini saya ingin berbagi mengenai salah satu buku yang telah selesai saya baca pada bulan ini. Judulnya: PhD Parents’ Stories, Menggapai Mimpi Bersama Pasangan Hidup. Judul yang amat sangat menarik menurut saya pribadi.  Okay, pertama kali tahu buku ini dari hasil scrolling di linimasa facebook. Saya tersentuh dengan cuplikan cerita buku yang berisi mengenai dukungan penuh suami pada istrinya untuk menggapai mimpi (dalam hal ini pendidikan formal). It’s a very rarely thing . Di dunia saya, pendidikan bagi perempuan masih menjadi sesuatu yang kontroversial. I mean , di satu sisi perempuan boleh mengakses haknya terhadap pendidikan, tapi di sisi lain stigma negatif masyarakat tentang perempuan yang berpendidikan tinggi masih melekat erat. Nah, mari kita bedah buku ini. Secara garis besar Phd Parents’ Stories terdiri dari 4 bagian utama, yakni bagian: memilih pasangan hidup, perjuangan perempuan semesta, dunia parenting, dan belajar dari mereka. Pada bagian ...

Yang Diprioritaskan

Berapa kali dalam sehari kiranya kita memikirkan tentang orang tua kita? Tentang kebutuhannya? Atau tentang bahagianya? Beberapa waktu yang lalu ketika hendak ke kampus Salemba, saya bertemu dengan seorang ibu paruh baya yang berprofesi sebagai pengemudi ojek online. Ini pertama kalinya saya mendapat pengemudi seorang perempuan. Ibu ini lumayan aktif membuka obrolan sepanjang perjalanan. “Neng, mau kuliah ya?” tanya si Ibu “iya bu. Ke kampus Salemba ya.” Sengaja saya iyakan, sudah biasa dikira masih mahasiswa (hehe). “mau lewat mana Neng? Kanan atau kiri?” “kanan aja bu, biar ga kena macet di RSCM.” “oke neng, kita lewat arah jalan pramuka ya.” “neng, sekarang biaya kuliah berapa ya?” “kalau sekarang bisa lebih dari 10 juta bu persemester, itu juga tergantung jurusannya apa. Kalau yang berkaitan dengan jurusan IT biasanya lebih mahal.” “oohh.. kalau dulu pas Neng masuk, berapa bayarnya?” “kalau dulu zaman saya masuk ditotal semuanya sekitar 50 jutaan bu.” “...