Langsung ke konten utama

Mak Jleb Jleb

                Lagi iseng liat-liat tumblr punya seseorang. Anak Fasilkom UI angkatan 2007, saya tahu beliau karena waktu itu beliau sempat jadi pembicara di salah event SMA almamater saya. Tumblrnya isinya bagus, memotivasi banget. Daripada liat-liat postingan yang isinya marah-marah atau hal-hal ga penting lainnya, sekali-kali perlu juga liat yang seperti ini. Sampailah di salah satu pagenya yang udah lama, dengan postingan :

“Hati-hati ya her, jangan ketipu.. Orang yang paling sering masang status fesbuk dengan ayat-ayat Qur’an, belum tentu paling sering baca Qur’an.. Orang yang paling sering berdoa dengan “kicauan” di twitter, belum tentu yang paling dekat dengan Tuhannya.. Orang yang paling sering jadi pembicara tentang kontribusi terhadap ummat, belum tentu diterima amal kebaikannya.. Karena untuk melihat seberapa qur’ani seseorang, lihatlah akhlak kesehariannya.. Karena untuk melihat seberapa dekat seseorang dengan Tuhannya, lihatlah seberapa ia malu berbuat dosa.. Karena untuk melihat siapa yang paling ikhlas perbuatannya, hanya kepada Allah kita menyerahkannya.. Lagian, Allah ga butuh media sosial kalee untuk mendengar & mengetahui apa yang diperbuat hambaNya.. Emangnya ‘Bruce Almighty’ apa?” #jleb #istighfarbanyakbanyak”

            Mak Jleb Jleb banget. Jangan ketipu, dan jangan menipu diri sendiri… Setidaknya begitulah kesan yang kudapat setelah membaca postingan itu. memang hati manusia yang tahu itu cuma dirinya sendiri dan Tuhannya. Segala sesuatu dilakukan berdasarkan niat dan akan kembali sesuai dengan niatnya. Hummmnnn.. nau’dzubillah, mudah-mudahan kita dijauhkan dari sifat munafik.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menulis Untuk Sabtulis

Dear Readers ! Pertama-tama, terima kasih sudah mampir ke blog saya. Yeay, kamu beruntung karena ada persembahan khusus di minggu ini. Sebuah tulisan tentang menulis. Lho bukannya sudah pernah menulis tentang menulis, Ning? Nope , kali ini berbeda. Saya akan sedikit bercerita tentang Sabtulis , sebuah gerakan untuk bersama-sama produktif menulis. Selamat datang dan selamat menengok dapur kecil kami melalui tulisan singkat ini. Supaya asyik, saya akan ditemani oleh seorang interviewer berinisial M. Ya, pokoknya sebut saja dia M (Misteri?). M    : Apa yang menjadi ide awal memulai Sabtulis dan dengan siapa kamu memulainya? Y    : Berawal dari percakapan dengan seorang sahabat nan jauh di Timur Jawa berinisial B tentang blog. Mr. B ini bekerja dibidang media dan jurnalistik. Kebetulan Mr. B cukup aktif menulis blog dan memang pekerjaan sehari-harinya berkaitan dengan tulisan. Berbanding terbalik dengan saya yang blognya sudah dipenuhi sarang laba-laba. Terakhir...

Kutipan Menarik dari Buku PhD Parents' Stories

Halo pembaca, kali ini saya ingin berbagi mengenai salah satu buku yang telah selesai saya baca pada bulan ini. Judulnya: PhD Parents’ Stories, Menggapai Mimpi Bersama Pasangan Hidup. Judul yang amat sangat menarik menurut saya pribadi.  Okay, pertama kali tahu buku ini dari hasil scrolling di linimasa facebook. Saya tersentuh dengan cuplikan cerita buku yang berisi mengenai dukungan penuh suami pada istrinya untuk menggapai mimpi (dalam hal ini pendidikan formal). It’s a very rarely thing . Di dunia saya, pendidikan bagi perempuan masih menjadi sesuatu yang kontroversial. I mean , di satu sisi perempuan boleh mengakses haknya terhadap pendidikan, tapi di sisi lain stigma negatif masyarakat tentang perempuan yang berpendidikan tinggi masih melekat erat. Nah, mari kita bedah buku ini. Secara garis besar Phd Parents’ Stories terdiri dari 4 bagian utama, yakni bagian: memilih pasangan hidup, perjuangan perempuan semesta, dunia parenting, dan belajar dari mereka. Pada bagian ...

Yang Diprioritaskan

Berapa kali dalam sehari kiranya kita memikirkan tentang orang tua kita? Tentang kebutuhannya? Atau tentang bahagianya? Beberapa waktu yang lalu ketika hendak ke kampus Salemba, saya bertemu dengan seorang ibu paruh baya yang berprofesi sebagai pengemudi ojek online. Ini pertama kalinya saya mendapat pengemudi seorang perempuan. Ibu ini lumayan aktif membuka obrolan sepanjang perjalanan. “Neng, mau kuliah ya?” tanya si Ibu “iya bu. Ke kampus Salemba ya.” Sengaja saya iyakan, sudah biasa dikira masih mahasiswa (hehe). “mau lewat mana Neng? Kanan atau kiri?” “kanan aja bu, biar ga kena macet di RSCM.” “oke neng, kita lewat arah jalan pramuka ya.” “neng, sekarang biaya kuliah berapa ya?” “kalau sekarang bisa lebih dari 10 juta bu persemester, itu juga tergantung jurusannya apa. Kalau yang berkaitan dengan jurusan IT biasanya lebih mahal.” “oohh.. kalau dulu pas Neng masuk, berapa bayarnya?” “kalau dulu zaman saya masuk ditotal semuanya sekitar 50 jutaan bu.” “...