Langsung ke konten utama

Rumah Impian

Suatu hari aku ingin membangun sebuah rumah, tak perlu besar, megah dan mewah, cukup rumah yang sederhana. Sebuah rumah sederhana dengan banyak jendela, agar angin sejuk bisa masuk ke dalamnya. Arsitekturnya didominasi dengan kayu. Disamping rumah akan ada sebuah kebun kecil yang diisi dengan koleksi kaktus mini (gampang ngerawatnya, bentuknya juga unik) dan bunga daisy, crysantium, juga tanaman obat. Dibagian belakang rumah ada halaman yang luasnya seukuran lapangan bola (hahaha kaga mungkin, bener-bener mimpi dah) untuk memelihara kuda poni dan bisa untuk camping (hahahaha, camping di dekat rumah sendiri). Di bagian depan ada beranda dengan kolam ikan. Dilantai 2 akan ada atap yang bentuknya setengah bola seperti di planetarium dan bisa di buka. Aku ingin rumah itu menjadi rumah yang hangat dengan kasih sayang dan penuh tawa. Tapi lebih dari itu, aku berharap dapat membangun rumah di surga bersama orang-orang sholeh, tak perlu megah, sederhana saja. Selagi masih mimpi, mimpi aja sengaco-ngaconya....ahahahahaha...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menulis Untuk Sabtulis

Dear Readers ! Pertama-tama, terima kasih sudah mampir ke blog saya. Yeay, kamu beruntung karena ada persembahan khusus di minggu ini. Sebuah tulisan tentang menulis. Lho bukannya sudah pernah menulis tentang menulis, Ning? Nope , kali ini berbeda. Saya akan sedikit bercerita tentang Sabtulis , sebuah gerakan untuk bersama-sama produktif menulis. Selamat datang dan selamat menengok dapur kecil kami melalui tulisan singkat ini. Supaya asyik, saya akan ditemani oleh seorang interviewer berinisial M. Ya, pokoknya sebut saja dia M (Misteri?). M    : Apa yang menjadi ide awal memulai Sabtulis dan dengan siapa kamu memulainya? Y    : Berawal dari percakapan dengan seorang sahabat nan jauh di Timur Jawa berinisial B tentang blog. Mr. B ini bekerja dibidang media dan jurnalistik. Kebetulan Mr. B cukup aktif menulis blog dan memang pekerjaan sehari-harinya berkaitan dengan tulisan. Berbanding terbalik dengan saya yang blognya sudah dipenuhi sarang laba-laba. Terakhir...

Inspirasi Kebaikan dari yang Gratisan

Siapa sih yang tak senang kalau dapat promo? Apalagi gratisan, termasuk soal makanan. Ya itulah yang saya rasakan setelah dua kali mendapat promo makan gratis di salah satu restoran Korea yang tersertifikasi halal.  What? Waittttt…. Iya halal sih, tapi gimana ceritanya muslimah yang kerudungnya lebar makan di restoran korea dengan setelan lagu ala budaya pop korea yang hype abis? girls bandnya saja pakaiannya kurang bahan, kan bertolak belakang sekali dengan nilai-nilai Islam. Jangan-jangan makan di sana karena ngefans sama artis koreanya? Tak malu apa sama kerudung? Mungkin ada yang bertanya-tanya seperti itu. Buat saya pribadi, saya tidak merumitkan  itu. Dibilang ngefans tidak juga. Murni karena promonya menarik, makanannya halal dan rasanya enak. Saya berpikir positif, barangkali dengan semakin banyaknya muslim/ah yang datang ke restoran itu budaya popnya bisa sedikit bergeser ke arah yang lebih ramah dengan nilai Islam. Atau setidaknya customer muslim punya penga...

percakapan #1

X: kamu juga sih karena ga enak hati semuanya aja di-iya-in, ujung-ujungnya kamu sendiri kan yg kebingungan. Overload capacity. Y: kamu tahu kan bagaimana aku. X: iya aku tahu, tahu kalau sekarang kamu butuh jeda dan ruang bernapas. Aku gak peduli kalau dititik ini orang lain bilang kamu egois, ga bisa dipercaya, atau apa pun lah. Kamu itu bukan mesin. #percakapan