Suatu hari aku ingin membangun sebuah rumah, tak
perlu besar, megah dan mewah, cukup rumah yang sederhana. Sebuah rumah
sederhana dengan banyak jendela, agar angin sejuk bisa masuk ke dalamnya.
Arsitekturnya didominasi dengan kayu. Disamping rumah akan ada sebuah kebun
kecil yang diisi dengan koleksi kaktus mini (gampang ngerawatnya, bentuknya
juga unik) dan bunga daisy, crysantium, juga tanaman obat. Dibagian belakang
rumah ada halaman yang luasnya seukuran lapangan bola (hahaha kaga mungkin,
bener-bener mimpi dah) untuk memelihara kuda poni dan bisa untuk camping
(hahahaha, camping di dekat rumah sendiri). Di bagian depan ada beranda dengan
kolam ikan. Dilantai 2 akan ada atap yang bentuknya setengah bola seperti di
planetarium dan bisa di buka. Aku ingin rumah itu menjadi rumah yang hangat
dengan kasih sayang dan penuh tawa. Tapi lebih dari itu, aku berharap dapat
membangun rumah di surga bersama orang-orang sholeh, tak perlu megah, sederhana
saja. Selagi masih mimpi, mimpi aja sengaco-ngaconya....ahahahahaha...
Dear Readers ! Pertama-tama, terima kasih sudah mampir ke blog saya. Yeay, kamu beruntung karena ada persembahan khusus di minggu ini. Sebuah tulisan tentang menulis. Lho bukannya sudah pernah menulis tentang menulis, Ning? Nope , kali ini berbeda. Saya akan sedikit bercerita tentang Sabtulis , sebuah gerakan untuk bersama-sama produktif menulis. Selamat datang dan selamat menengok dapur kecil kami melalui tulisan singkat ini. Supaya asyik, saya akan ditemani oleh seorang interviewer berinisial M. Ya, pokoknya sebut saja dia M (Misteri?). M : Apa yang menjadi ide awal memulai Sabtulis dan dengan siapa kamu memulainya? Y : Berawal dari percakapan dengan seorang sahabat nan jauh di Timur Jawa berinisial B tentang blog. Mr. B ini bekerja dibidang media dan jurnalistik. Kebetulan Mr. B cukup aktif menulis blog dan memang pekerjaan sehari-harinya berkaitan dengan tulisan. Berbanding terbalik dengan saya yang blognya sudah dipenuhi sarang laba-laba. Terakhir...
Komentar
Posting Komentar