Langsung ke konten utama

Dari malu-malu sampai marah-marah

Kalau dipikir-pikir lucu juga sih, gaya komunikasi dengan makhluk yang satu ini. Mungkin karena beda jenis, beda pula cara berkomunikasinya. Karena mungkin faktor penjagaan juga kali ya jadi kadang-kadang agak sulit untuk mengungkapkan ide, emosi, atau gagasan. Yep, makhluk itu adalah ikhwan. Menurut pandanganku pribadi, laki-laki bertitel ikhwan itu tingkatan ruhiyahnya, tsaqofah islamiyah, atau militansinya lebih daripada laki-laki kebanyakan.
Kalau ikhwannya yang tipe ekstrovert, terbuka (open minded), dan nyambung diajakan diskusi atau dialog, waaah alhamdulillah sekali, lebih mudah untuk menyamakan persepsi atau mencari solusi. But makhluk yang seperti itu is very rare, sangat jarang. Jadi teringat kata-kata seorang senior, “kalian itu yang awalnya malu-malu mengungkapkan pendapat, malu-malu berkomunikasi, sampai yang sekarang malah bawaannya marah-marah mulu kalau berkomunikasi dengan mereka.”
Astagfirullah, iya benar juga kata-kata seniorku ini. Mulai dari yang mulanya malu-malu, takut salah berucap, hingga yang marah-marah karena seringnya berselisih paham, geregetan, dan dibuat kesal oleh mereka. Padahal ya kalau dipikir lagi mereka itu kan biar bagaimanapun adalah seorang imam, qiyadah, pemimpin kami, perempuan.

#astagfirullah
#banyak.banyak.istigfar

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kutipan Menarik dari Buku Seperti Hujan yang Jatuh ke Bumi

Buku “Seperti Hujan yang Jatuh ke Bumi” karangan Boy Candra ini saya beli beberapa hari yang lalu. Kalau ada yang bilang jangan menilai sebuah buku hanya dari sampulnya saja, mungkin saya adalah bagian dari sebuah anomali. Nyatanya, keputusan saya untuk membeli novel ini sebagian besar ditentukan oleh apa yang ditampilkan pada bagian sampulnya. Saya tertarik membeli sebab sampul bukunya yang sederhana dengan ilustrasi dua orang yang berada di bawah hujan ditambah beberapa kalimat narasi di sampul belakang buku.  Ini pertama kalinya saya membaca karya dari Boy Candra. Sebuah novel yang cukup renyah untuk dicerna. Hanya perlu waktu setengah hari untuk menyelesaikan buku setebal 284 halaman ini. Berlatar belakang dunia perkuliahan, tokoh Kevin, Nara, Juned, dan Tiara dipertemukan. Kevin dan Nara sudah bersahabat sejak kecil. Diam-diam ia memendam perasaan pada Nara. Nara yang tidak tahu bahwa Kevin punya perasaan lebih padanya, pernah meminta Kevin untuk menjadi sahabat selaman...

Menulis Untuk Sabtulis

Dear Readers ! Pertama-tama, terima kasih sudah mampir ke blog saya. Yeay, kamu beruntung karena ada persembahan khusus di minggu ini. Sebuah tulisan tentang menulis. Lho bukannya sudah pernah menulis tentang menulis, Ning? Nope , kali ini berbeda. Saya akan sedikit bercerita tentang Sabtulis , sebuah gerakan untuk bersama-sama produktif menulis. Selamat datang dan selamat menengok dapur kecil kami melalui tulisan singkat ini. Supaya asyik, saya akan ditemani oleh seorang interviewer berinisial M. Ya, pokoknya sebut saja dia M (Misteri?). M    : Apa yang menjadi ide awal memulai Sabtulis dan dengan siapa kamu memulainya? Y    : Berawal dari percakapan dengan seorang sahabat nan jauh di Timur Jawa berinisial B tentang blog. Mr. B ini bekerja dibidang media dan jurnalistik. Kebetulan Mr. B cukup aktif menulis blog dan memang pekerjaan sehari-harinya berkaitan dengan tulisan. Berbanding terbalik dengan saya yang blognya sudah dipenuhi sarang laba-laba. Terakhir...

Donat Kok Gitu

Sebelum cerita panjang lebar, saya ada pemberitahuan terlebih dahulu. Di dalam tulisan ini akan banyak bahasa gaul dan ejaan yang mungkin tidak sesuai, so mohon dibawa santai. Oke sist, oke bro? Hehe Dipostingan kali ini saya mau cerita tentang eksperimen bikin donat kemarin. Sebelum-sebelumnya sudah pernah bikin donat, tapi hasilnya selalu berubah-ubah, belum ada yang mantap. Kali ini saya mencoba resep baru yang saya temukan dari salah satu media yang khusus memuat resep kue. Berhubung saya ga punya alat takar di rumah, jadi dikira-kira aja deh takaran bahan-bahannya. Pas semua bahan udah dicampur adonannya engga kalis, masih lengket-lengket gimana gitu. Sepertinya air yang saya masukkan terlalu banyak. Yasudah abis itu  ditambahin terigu sedikit demi sedikit. Eh tetep masih lengket. Niatnya cuma mau bikin seperempat kilo. Nyatanya kebablasan sampai setengah kilo terigu abis untuk bahan adonan 😂. Trus pas bikin donat tadi, hasil adonannya bagus. Alhamdulillah bi...