Langsung ke konten utama

Dari malu-malu sampai marah-marah

Kalau dipikir-pikir lucu juga sih, gaya komunikasi dengan makhluk yang satu ini. Mungkin karena beda jenis, beda pula cara berkomunikasinya. Karena mungkin faktor penjagaan juga kali ya jadi kadang-kadang agak sulit untuk mengungkapkan ide, emosi, atau gagasan. Yep, makhluk itu adalah ikhwan. Menurut pandanganku pribadi, laki-laki bertitel ikhwan itu tingkatan ruhiyahnya, tsaqofah islamiyah, atau militansinya lebih daripada laki-laki kebanyakan.
Kalau ikhwannya yang tipe ekstrovert, terbuka (open minded), dan nyambung diajakan diskusi atau dialog, waaah alhamdulillah sekali, lebih mudah untuk menyamakan persepsi atau mencari solusi. But makhluk yang seperti itu is very rare, sangat jarang. Jadi teringat kata-kata seorang senior, “kalian itu yang awalnya malu-malu mengungkapkan pendapat, malu-malu berkomunikasi, sampai yang sekarang malah bawaannya marah-marah mulu kalau berkomunikasi dengan mereka.”
Astagfirullah, iya benar juga kata-kata seniorku ini. Mulai dari yang mulanya malu-malu, takut salah berucap, hingga yang marah-marah karena seringnya berselisih paham, geregetan, dan dibuat kesal oleh mereka. Padahal ya kalau dipikir lagi mereka itu kan biar bagaimanapun adalah seorang imam, qiyadah, pemimpin kami, perempuan.

#astagfirullah
#banyak.banyak.istigfar

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menulis Untuk Sabtulis

Dear Readers ! Pertama-tama, terima kasih sudah mampir ke blog saya. Yeay, kamu beruntung karena ada persembahan khusus di minggu ini. Sebuah tulisan tentang menulis. Lho bukannya sudah pernah menulis tentang menulis, Ning? Nope , kali ini berbeda. Saya akan sedikit bercerita tentang Sabtulis , sebuah gerakan untuk bersama-sama produktif menulis. Selamat datang dan selamat menengok dapur kecil kami melalui tulisan singkat ini. Supaya asyik, saya akan ditemani oleh seorang interviewer berinisial M. Ya, pokoknya sebut saja dia M (Misteri?). M    : Apa yang menjadi ide awal memulai Sabtulis dan dengan siapa kamu memulainya? Y    : Berawal dari percakapan dengan seorang sahabat nan jauh di Timur Jawa berinisial B tentang blog. Mr. B ini bekerja dibidang media dan jurnalistik. Kebetulan Mr. B cukup aktif menulis blog dan memang pekerjaan sehari-harinya berkaitan dengan tulisan. Berbanding terbalik dengan saya yang blognya sudah dipenuhi sarang laba-laba. Terakhir...

Inspirasi Kebaikan dari yang Gratisan

Siapa sih yang tak senang kalau dapat promo? Apalagi gratisan, termasuk soal makanan. Ya itulah yang saya rasakan setelah dua kali mendapat promo makan gratis di salah satu restoran Korea yang tersertifikasi halal.  What? Waittttt…. Iya halal sih, tapi gimana ceritanya muslimah yang kerudungnya lebar makan di restoran korea dengan setelan lagu ala budaya pop korea yang hype abis? girls bandnya saja pakaiannya kurang bahan, kan bertolak belakang sekali dengan nilai-nilai Islam. Jangan-jangan makan di sana karena ngefans sama artis koreanya? Tak malu apa sama kerudung? Mungkin ada yang bertanya-tanya seperti itu. Buat saya pribadi, saya tidak merumitkan  itu. Dibilang ngefans tidak juga. Murni karena promonya menarik, makanannya halal dan rasanya enak. Saya berpikir positif, barangkali dengan semakin banyaknya muslim/ah yang datang ke restoran itu budaya popnya bisa sedikit bergeser ke arah yang lebih ramah dengan nilai Islam. Atau setidaknya customer muslim punya penga...

percakapan #1

X: kamu juga sih karena ga enak hati semuanya aja di-iya-in, ujung-ujungnya kamu sendiri kan yg kebingungan. Overload capacity. Y: kamu tahu kan bagaimana aku. X: iya aku tahu, tahu kalau sekarang kamu butuh jeda dan ruang bernapas. Aku gak peduli kalau dititik ini orang lain bilang kamu egois, ga bisa dipercaya, atau apa pun lah. Kamu itu bukan mesin. #percakapan